Belajar tentang Geologi berarti mempelajari masa depan BUMI kita !!! SATU HATI SATU BUMI

Selasa, 02 April 2013

0 Komposisi Batuan Metamorf

Pertumbuhan  dari mineral-mineral baru atau  rekristalisasi dari  mineral yang ada sebelumnya sebagai akibat  perubahan  tekanan dan atau temperatur menghasilkan pembentukan kristal lain yang baik, sedang atau  perkembangan  sisi muka  yang  jelek;  kristal  ini dinamakan idioblastik, hypidioblastik, atau xenoblastik. Secara umum batuan metamorf disusun oleh mineral-mineral tertentu (Tabel 3.13), namun secara khusus mineral penyusun batuan metamorf dikelompokkan menjadi dua yaitu (1) mineral stress dan (2) mineral anti stress. Mineral stress adalah mineral yang stabil dalam kondisi tekanan, dapat berbentuk pipih/tabular, prismatik dan tumbuh tegak lurus terhadap arah gaya/stress meliputi: mika, tremolit-aktinolit, hornblende, serpentin, silimanit, kianit, seolit, glaukopan, klorit, epidot, staurolit dan antolit. Sedang mineral anti stress adalah mineral yang terbentuk dalam kondisi tekanan, biasanya berbentuk equidimensional, meliputi: kuarsa, felspar, garnet, kalsit dan kordierit.

Tekstur batuan metamorf (Compton, 1985).
Tekstur batuan metamorf (Compton, 1985)


A. Tekstur Granoblastik, sebagian menunjukkan tekstur mosaik;
B. Tekstur Granoblatik berbutir iregular, dengan poikiloblast di kiri atas;
C. Tekstur Skistose dengan porpiroblast euhedral;
D. Skistosity dengan domain granoblastik lentikuler;
E. Tekstur Semiskistose dengan meta batupasir di dalam matrik mika halus;
F. Tekstur Semiskistose dengan klorit dan aktinolit di dalam masa dasar blastoporfiritik metabasal;
G. Granit milonit di dalam proto milonit;
H. Ortomilonit di dalam ultramilonit; I. Tekstur Granoblastik di dalam blastomilonit.

Ciri-ciri fisik mineral-mineral penyusun batuan metamorf (Gillen, 1982)
Ciri-ciri fisik mineral-mineral penyusun batuan metamorf (Gillen, 1982)

Setelah  kita  menentukan  batuan  asal  mula metamorf, kita  harus  menamakan  batuan  tersebut.  Sayangnya prosedur  penamaan batuan metamorf tidak sistematik seperti  pada batuan  beku  dan  sedimen. Nama-nama  batuan  metamorf  terutama didasarkan  pada  kenampakan tekstur dan struktur (Tabel 3.14). Nama  yang  umum  sering dimodifikasi  oleh  awalan yang menunjukkan  kenampakan nyata atau aspek  penting  dari tekstur (contoh gneis augen), satu atau lebih  mineral yang ada (contoh skis klorit), atau nama dari batuan  beku  yang mempunyai  komposisi sama (contoh gneis granit).  Beberapa nama  batuan  yang  didasarkan pada  dominasi  mineral  (contoh metakuarsit) atau berhubungan dengan facies metamorfik yang dipunyai batuan (contoh granulit).
            Metamorfisme regional dari batulumpur  melibatkan perubahan keduanya baik tekanan dan temperatur secara awal menghasilkan rekristalisasi dan modifikasi dari mineral  lempung  yang  ada. Ukuran butiran secara mikroskopik tetap, tetapi arah yang baru dari orientasi mungkin dapat berkembang sebagai hasil dari gaya stres.  Resultan batuan berbutir halus yang mempunyai belahan batuan yang baik sekali dinamakan  slate. Bilamana  metamorfisme  berlanjut sering  menghasilkan  orientasi dari mineral-mineral pipih pada batuan dan penambahan ukuran butir dari klorit dan  mika.  Hasil dari batuan  yang  berbutir  halus  ini dinamakan  phylit,  sama  seperti slate  tetapi  mempunyai  kilap sutera  pada  belahan permukaannya. Pengujian  dengan  menggunakan  lensa tangan  secara teliti kadangkala memperlihatkan pecahan  porpiroblast yang  kecil  licin mencerminkan permukaan belahannya. Pada tingkat metamorfisme yang lebih tinggi, kristal tampak tanpa lensa.  Disini  biasanya kita  menjumpai mineral-mineral  yang  pipih  dan memanjang  yang  terorientasi  kuat  membentuk  skistosity yang menyolok. Batuan  ini dinamakan skis, masih bisa  dibelah  menjadi lembaran-lembaran.  Umumnya berkembang porpiroblast; hal ini sering  dapat diidentikkan dengan sifat khas  mineral  metamorfik seperti garnet, staurolit, atau  kordierit. Masih  pada metamorfisme  tingkat  tinggi disini  skistosity  menjadi  kurang jelas;  batuan terdiri dari kumpulan butiran sedang sampai  kasar dari tekstur dan mineralogi yang berbeda menunjukkan  tekstur gnessik  dan  batuannya dinamakan gneis. Kumpulan  yang  terdiri dari  lapisan  yang  relatif  kaya kuarsa  dan  feldspar, kemungkinan  kumpulan tersebut terdiri dari  mineral  yang mengandung feromagnesium (mika, piroksin, dan ampibol). Komposisi mineralogi sering  sama  dengan batuan beku, tetapi  tekstur  gnessik  biasanya menunjukkan  asal  metamorfisme; dalam  kumpulan  yang  cukup orientasi  sering  ada. Penambahan  metamorfisme  dapat  mengubah gneis menjadi migmatit. Dalam kasus ini, kumpulan berwarna terang menyerupai batuan beku tertentu, dan perlapisan kaya feromagnesium mempunyai aspek metamorfik tertentu.
Jenis batuan metamorf lain penamaannya hanya berdasarkan pada komposisi mineral, seperti: Marmer disusun hampir semuanya dari kalsit atau dolomit; secara tipikal bertekstur granoblastik. Kuarsit  adalah batuan  metamorfik bertekstur granobastik dengan  komposisi  utama  adalah kuarsa, dibentuk oleh rekristalisasi dari batupasir atau  chert/rijang. Secara  umum  jenis batuan metamorfik yang lain adalah sebagai berikut:

            Amphibolit : Batuan yang berbutir sedang sampai kasar komposisi utamanya  adalah ampibol (biasanya hornblende) dan plagioklas.
            Eclogit : Batuan  yang berbutir  sedang  komposisi  utama adalah  piroksin klino ompasit tanpa plagioklas felspar (sodium dan diopsit kaya alumina) dan garnet  kaya  pyrop. Eclogit mempunyai  komposisi  kimia  seperti basal, tetapi mengandung fase yang lebih berat. Beberapa eclogit berasal dari batuan beku.
            Granulit : Batuan yang berbutir merata terdiri dari mineral (terutama kuarsa,  felspar, sedikit garnet dan piroksin) mempunyai tekstur granoblastik. Perkembangan struktur  gnessiknya lemah mungkin terdiri dari lensa-lensa datar kuarsa dan/atau felspar.
            Hornfels : Berbutir halus,  batuan  metamorfisme  thermal terdiri  dari  butiran-butiran  yang  equidimensional dalam orientasi acak. Beberapa porphiroblast atau sisa fenokris mungkin ada.  Butiran-butiran kasar yang sama disebut granofels.
            Milonit : Cerat berbutir halus atau kumpulan batuan yang dihasilkan oleh pembutiran atau aliran dari batuan yang lebih kasar. Batuan mungkin menjadi protomilonit, milonit, atau ultramilomit, tergantung atas jumlah dari fragmen yang tersisa. Bilamana batuan mempunyai skistosity dengan kilap permukaan sutera, rekristralisasi mika, batuannya disebut philonit.
            Serpentinit : Batuan yang hampir seluruhnya terdiri dari mineral-mineral dari kelompok serpentin. Mineral asesori meliputi klorit, talk, dan karbonat.
Serpentinit dihasilkan dari alterasi mineral silikat feromagnesium yang terlebih dahulu ada, seperti olivin dan piroksen.
           Skarn : Marmer yang tidak bersih/kotor yang mengandung kristal dari mineral kapur-silikat seperti garnet, epidot, dan sebagainya. Skarn terjadi karena perubahan komposisi batuan penutup (country rock) pada kontak batuan beku.

Klasifikasi Batuan Metamorf (O’Dunn dan Sill, 1986).
Klasifikasi Batuan Metamorf (O’Dunn dan Sill, 1986).

FeedLangganan Artikel Terbaru Belajar Geologi via Email

» Cek Email Anda untuk konfirmasi berlangganan

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Sopan Dan Bertatakrama, SALAM GEOLOGI !!

 

BELAJAR GEOLOGI Copyright © 2013 - |- Template created by jametz - |- Powered by Engineering Geology

SELAMAT BERBAGI ILMU